Assalamu'alaikum wr wb
Selamat datang di MIQRA INDONESIA GROUP. Sumber Inspirasi, Motivasi, Ilmu dan Amal untuk ke-SUKSES-an hidup Anda di dunia akhirat.
Ayo Gabung Dengan Komunitas Pembaca MIQRA INDONESIA GROUP
Dapatkan Hadiah Ebook:
”ILMU MENJADI KAYA”

Setelah Anda bergabung dengan Mailing List MIQRA INDONESIA GROUP.



ARDA MOTIVATION SUCCESS:
| ALUMNI KUTAMAYA BANDUNG | ILMU MENJADI KAYA | MIQRA INDONESIA | KUMPULAN ARTIKEL ARDA | Arda News Success | Arda REFERENCE | Blogging Success | Golden Age/ HOME SCHOOLING | Wisdom Business | Quantum Writers | Inspiring Intelligence | Mosquito & Public Health | Getting Rich | Writers Success | Sprituality Health | Farmakologi | Sanitary | Physiology | House Keeping | Pollution News | Photografy|

LIVE TRAFFIC FEED
gravatar

Mewaspadai Bahan Pengawet Dalam Makanan

Oleh ARDA DINATA*
http://ardaiq.blogspot.com

SETIAP
konsumen makanan perlu mengetahui mengenai bahan pengawet yang digunakan dalam makanan. Keberadaan penambahan bahan tambahan makanan (BTM) ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan nilai gizi makanan, memperbaiki nilai sensori makanan, dan memperpanjang umur simpan (shelf life) makanan. Pemakaian BTM di Indonesia diatur oleh Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan (Ditjen POM). Dan peraturan mengenai pemakaian BTM ini berbeda-beda di tiap negara.

Adanya pengawet dalam makanan berfungsi untuk memperpanjang umur simpan suatu makanan (dengan jalan menghambat pertumbuhan mikroba). Oleh karena itu sering pula disebut sebagai senyawa antimikroba. Beberapa senyawa yang mempunyai sifat sebagai antimikroba, diantaranya sulfit dan sulfurdioksida, garam nitrit dan nitrat, asam sorbat, asam propionat, asam asetat, dan asam benzoat. Sehingga diluar bahan itu, harus diwaspadai, seperti penggunaan formalin pada pengawetan tahu, boraks pada baso, dll.

Penggunaan sulfurdioksida ini lama digunakan dalam makanan sebagai pengawet dan penggunaanya berkembang menjadi berbagai bentuk seperti gas SO2, garam bisulfit dan sulfit. Penelitian menunjukan bahwa sulfurdioksida paling efektif bekerja pada kondisi pH rendah dan diperkirakan hal ini disebabkan oleh H2SO3 yang dalam larutan tidak berdisosiasi. Dalam keadaan tidak terdisosiasi ini, asam akan lebih mudah menembus dinding sel mikroba.

Selain bertindak sebagai pengawet, sulfurdioksida juga dapat mencegah terjadinya pencoklatan non enzimatis (reaksi Maillard). Yaitu dengan cara bereaksi dengan gula pereduksi maupun senyawa antar aldehida. Sulfurdioksida ini punya efek memucatkan pigmen melanoidin yang terbentuk pada reaksi Maillard, sehingga sangat efektif dalam mencegah reaksi pencoklatan. Sulfurdioksida sering ditambahkan ke dalam tepung untuk memutus ikatan disulfida pada protein dan memperbaiki mutu adonan yang dihasilkan. Sulfurdioksida dan sulfit dapat dimetabolisme menjadi sulfat dan dieksresi ke dalam urin tanpa efek sampingan lainnya.

Garam potasiium atau sodium dari nitrit dan nitrat ditambahkan pada proses curing daging. Ia dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Senyawa yang berperan adalah nitrit dan pada konsentrasi 150-200 ppm dapat menghambat pertumbuhan Clostridia di dalam daging yang dikalengkan. Meskipun demikian, penggunaan nitrit saat ini dihindari karena diduga menghasilkan nitrosamin yang bersifat karsinogenik.

Asam sorbat merupakan asam mono karboksilat dan anolog-analognya memiliki ikatan rangkap a (a-unsaturated) mempunyai sifat antimikroba yang sangat kuat. Asam ini digunakan dalam bentuk garam sodium dan potasiumnya. Ia efektif menghambat pertumbuhan kapang dan ragi dalam makanan (seperti keju, produk bekeri, sari buah, anggur dan acar). Asam sorbat sangat efektif menekan pertumbuhan kapang dan tidak mempengaruhi cita rasa makanan pada tingkat penambahan yang diperbolehkan (sampai 0,3% berat bahan).

Asam propionat biasanya digunakan dalam bentuk garam natrium dan kalsium. Senyawa ini secara alami terdapat di dalam keju swiss (sampai 1%). Asam propionat selain dapat menghambat kapang juga menghambat pertumbuhan Bacillus mesentericus yang menyebabkan kerusakan ropy bread. Seperti antimikroba lainnya, asam propionat juga dalam bentuk tidak terdisosiasi bersifat lebih poten.

Asam asetat ini dalam pengawetan pangan sudah lama dipakai, seperti pada pengacaran. Selain sebagai antimikroba, asam asetat juga berkontribusi terhadap cita rasa makanan, seperti pada mayones, acar, saos tomat dll. Aktivitas antimikroba asam asetat ini akan naik dengan menurunya pH. Sementara itu, penggunaan asam benzoat seringkali sebagai antimikroba, seperti pada sari buah, minuman ringan dll. Garam sodium dari asam benzoat ini lebih sering digunakan, sebab ia lebih larut air daripada bentuk asamnya. Asam benzoat sangat poten terhadap ragi dan bakteri serta efektif dalam menghambat pertumbuhan kapang.

Akhirnya, dengan tahu aneka bahan pengawet yang boleh ada dalam makanan, tentu kita lebih selektif lagi mengkonsumsi makanan yang didalamnya menggunakan bahan pengawet। Sehingga makanan yang kita konsumsi akan aman. Wallahu a’lam.***


*Penulis adalah dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan Bandung.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia
.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.penulissukses.com?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail:
arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com

gravatar

“Kaum Adam”, Tokoh Kunci Penularan HIV/AIDS

Oleh ARDA DINATA

Setiap 1 Desember, kita diingatkan dengan Hari AIDS Sedunia। AIDS, awalnya ia membunuh orang-orang homoseksual. Kemudian pecandu narkotika, orang-orang Haiti dan penderita hemofilia. Kini ia memangsa siapa saja ---Pria, wanita, suami, istri, dan bahkan anak-anak--- tak perduli apapun gaya hidup dan aktivitas seksual mereka. Ia mewabah di bebarapa negara termasuk Indonesia.

Data bulan Juni 2001, penderita HIV/AIDS mencapai 2।150 kasus yang meliputi 1.572 kasus HIV dan 578 kasus AIDS, 241 penderia AIDS diantaranya telah meninggal. Kasus ini adalah kasus yang dilaporkan sejak tahun 1987. Angka-angka tersebut berasal dari 23 Provinsi di Indonesia. Sedangkan tiga Provinsi lainnya masing-masing Bengkulu, Sulteng, dan Sultra belum melaporkannya.

Data tersebut merupakan hasil laporan tiga bulanan Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (P2M&PL) Depkes-Kesos। Lebih lanjut dilaporkan, penularan AIDS itu terdiri atas 57,6 persen melalui heteroseksual, melalui homoseksual (14,88 persen) dan pengguna narkotika suntik (18,34 persen). Berdasarkan kelompok umur, jumlah penderita AIDS terbagi atas, usia 20-29 tahun mencapai 37,72 persen, kelompok usia 30-39 tahun (33,91 persen) dan kelompok usia 40-49 tahun (12,46 persen).

Jumlah tersebut merupakan puncak gunung es। Menurut Estimasi WHO, di Indonesia terdapat 52.000 kasus di masyarakat pada tahun 1999. Sedangkan tahun 2001 estimasi meningkat menjadi 80.000-120.000 kasus. Data terbaru jumlah kumulatif pengindap infeksi HIV dan kasus AIDS di Indonesia sejak pertama kali dilaporkan hingga 30 September 2002 mencapai 3.374 kasus dengan rincian sebanyak 2.417 orang terkena infeksi HIV dan 286 orang mengindap AIDS. Sementara itu, selama rentang waktu antara Januari hingga 30 September 2002, terdapat 799 kasus dengan rincian 513 kasus infeksi HIV dan 286 kasus AIDS. Oleh sebab itu, langkah penting selain pengobatan, perawatan dan dukungan, adalah pencegahan terjadinya penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Dan ini tentunya sangat relevan bila dikatakan Men Make a Difference, atau pria punya peranan. Artinya kaum pria dianggap memiliki peranan dan sebagai tokoh kunci dalam penyebaran HIV/AIDS.

Cara Penularan
Virus HIV (penyebab AIDS) ini, sebenarnya bukanlah virus yang ganas। Penularannya pun tidak semudah seperti penularan virus influenza। Memang tidak dipungkiri kalau bibit penyakit AIDS ini terdapat pada semua cairan tubuh penderita AIDS. Tapi, yang terbukti berperan dalam penularan AIDS ialah air mani (sperma), cairan alat kelamin wanita dan darah.

Secara demikian, cara penularan AIDS terjadi terutama melalui: Pertama, hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi AIDS। Cara hubungan seksual melalui alat kelamin, dubur maupun mulut sangat rawan untuk penularan AIDS. Kedua, transfusi darah yang sudah terinfeksi virus AIDS. Aplikasinya bisa melalui jarum suntik dan alat tusuk lainnya (tusuk jarum, tatto, tindik telinga) yang bekas dipakai oleh orang yang terinfeksi virus AIDS. Ketiga, ibu hamil yang terinfeksi virus AIDS dapat menularkan kepada janin dan bayinya.

Peranan Kunci
Pria punya peranan। Pola ini, paling tidak kalau kita bisa mengubah pola pikir, pandangan, perhatian, kesadaran, pada kelompok pria, kita bisa mendapatkan kelompok masyarakat yang ikut berpartisipasi secara aktif dalam menanggulangi masalah penyebaran HIV/AIDS ini.

Sementara itu, saran bijak dari Prof Umar Fahmi, MPH, Dirjen P2M&PL, bahwa untuk menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia, perlu dipahami peta masalahnya। Secara nasional prevalensi HIV/AIDS di Indonesia terkonsentrasi pada sub populasi tertentu, misalnya penjaja seks dan pengguna narkotika suntikan (IDU) di sejumlah kota besar serta provinsi tertentu. Tepatnya, kalau kita cermati untuk daerah perkotaan, pola penularan lewat hubungan heteroseksual dan IDU. Di kepuluan, penularan lewat hubungan heteroseksual yang terkait dengan kegiatan perdagangan dan mobilitas penduduk. Di Irian Jaya bagian selatan, penularan selain lewat hubungan heteroseksual juga dari ibu ke bayi.

Atas dasar itu, tentu ada alasan yang mendukung bahwa pria punya peran dalam menanggulangi penyebaran HIV/AIDS। Demikian pula yang pola transmisinya melalui jarum suntik (baca: narkotika suntikan/IDU), pria punya peran besar, tentunya kaum remaja.

Sejauh ini diperkirakan antara 1% dan 2% penduduk di Indonesia (atau sekitar 2-4 juta orang) sudah terpapar sebagai pengguna narkotika। Ini adalah bukan jumlah yang main-main, besar sekali. Diperkirakan pula sekitar 16% pengguna telah meninggal akibat narkotika. Untuk kota Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 1,3 juta orang pengguna narkotika. Sejauh ini baru diindentifikasi 12 kasus HIV/AIDS dari kelompok pengguna narkotika suntik (5 kasus HIV dan 7 kasus AIDS).

Sementara itu, data berdasarkan Survei Surveilans Perilaku Penggunaan Narkotika Suntik di Jakarta, yang diketuai Budi Utomo (2001), seperti yang dimuat dalam Jurnal AIDS-—Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI)--- diketahui bahwa dari 406 responden pengguna narkotika suntik yang diwawancari, 90% laki-laki, dan 95% berusia muda di bawah 30 tahun। Prosentase responden dengan usia di bawah 20 tahun yang merupakan usia remaja adalah 23% pada laki-laki dan 38% pada perempuan.

Sementara itu, sebagian besar responden (61%) telah menggunakan narkotika suntik lebih dari setahun, dengan rata-rata hitung 22 bulan dan median 18 bulan। Sebagian besar responden (68%) menyuntik sekali atau lebih dalam satu hari, dengan rincian 30% menyuntik satu kali per hari, 35% menyuntik dua sampai tiga kali per hari, dan 3% menyuntik empat kali atau lebih per hari. Frekuensi penyuntikan ini memegang peranan penting dalam penularan HIV. Jelasnya, semakin sering perilaku menyuntikan, maka semakin meningkat resiko penularannya.

Kesepakatan Penanganan
Gambaran di atas, dapat ditunjukan betapa besar resiko terinfeksi HIV pada kalangan heteroseksual, lebih-lebih penggunaan narkotika suntik, dan resiko ini lebih tinggi pada laki-laki dibanding kaum perempuan। Untuk itu, kaum laki-laki yang beresiko tinggi terjadi penularan HIV/AIDS ini, perlu kita dayagunakan untuk berusaha mengubah pola pikir, pandangan, perhatian, kesadaran, terhadap masalah penyakit HIV/AIDS. Di sinilah perlunya kerjasama dari semua pihak yang terkait dan peduli dalam menanggulangi penularan HIV/AIDS.

Pada konteks ini, ada beberapa kesepakatan yang telah disepakati ---dan tentunya harus dijalankan oleh setiap negara--- dalam skala ASEAN untuk sama-sama menangani masalah HIV/AIDS ini। Seperti diungkapkan, Ketua Satuan Tugas ASEAN untuk AIDS (ATFOA), Loreto B Roquero Jr MD MPH, ada dua tingkatan prioritas dalam menangani masalah HIV/AIDS di ASEAN. Perioritas utama, meliputi tiga hal yang dianggap penting. Yaitu pertama, memperbesar akses terhadap obat-obat untuk HIV/AIDS yang berharga murah. Kedua, membuka akses untuk perawatan, penjagaan, serta informasi untuk perpindahan populasi (mobile population) misalnya pekerja, pengunjung, pelajar, dan yang lainnya. Ketiga, memperkuat kerja sama antar sektoral, yaitu antar-menteri dalam satu negara.

Peroritas kedua, yang disepakati sebagai program nasional ini adalah ada delapan butir। (1) Tentang pendidikan dan ketrampilan bagi pemuda; (2) melakukan pencegahan efektif untuk transmisi HIV; (3) memonitor HIV di kalangan mereka yang memiliki prevalensi tinggi dengan tingkah laku yang berisiko; (4) perlakuan, perawatan, dan dukungan terhadap orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODA); (5) pencegahan penularan dari ibu ke anak; (6) menciptakan lingkungan yang mendukung pencegahan HIV/AIDS; (7) saling menjaga di kalangan pengguna obat-obatan terlarang (IDU); dan (8) memperkuat koordinasi diantara badan-badan yang bekerja untuk kaum muda.

Akhirnya kita berharap semoga program ini benar-benar efektif dan berhasil. Yang jelas, hemat penulis pencegahan HIV/AIDS ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan baik, seandainya kunci utamanya adalah kita mematuhi semua aturan Allah SWT. Artinya sebagian kecil dari urian di atas, telah membuktikan bahwa perzinaan adalah pebuatan yang tidak diridhai-Nya. Dampaknya bagi kita buah keburukan yang diperoleh, bukan saja di akhirat kelak melainkan juga ketika masih hidup di dunia (baca: AIDS). Karena itu, tidak berlebihan Allah mengingatkan kepada kita dalam Alquran, yang artinya:“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). Wallahu’alam.*** [Arda Dinata].

gravatar

Mengenal Antioksidan Dalam Bahan Tambahan Makanan

Oleh Arda Dinata

DEWASA ini, penggunaan bahan tambahan makanan sangat beragam, dari pengawet sampai ke pemberi aroma dan pewarna. Masalah penggunaan bahan tambahan makanan dalam proses produksi pangan misalnya, perlu diwaspadai bersama, baik oleh produsen maupun oleh konsumen, mengingat penggunaannya dapat berakibat positif maupun negatip bagi masyarakat.

Untuk tujuan itu, perlu kiranya pengetahuan mengenai bahan tambahan makanan. Selain berupa pengetahuan teknis, juga diperlukan untuk mendapatkan manfaat yang optimal serta terjaminnya aspek keamanan produk yang dihasilkan. Bukankah bagi seorang muslim, makanan yang kita konsumsi itu harus benar-benar halal dan baik?

Menurut FAO, bahan tambahan makanan (BTM) atau food additives didefinisikan sebagai senyawa yang sengaja ditambahkan ke dalam makanan dan terlibat dalam proses pengolahan, pengemasan dan atau penyimpanan dan bukan merupakan bahan (ingredient) utama.

Sebenarnya ada banyak kelompok BTM yaitu antioksidan, anti kempal, pemanis buatan, bahan pengawet, pewarna dan pengemulsi. Namun, kali ini yang kita bahas adalah bahan antioksidan. Antioksidan adalah bahan tambahan yang digunakan untuk melindungi komponen-komponen makanan yang bersifat tidak jenuh (mempunyai ikatan rangkap), terutama lemak dan minyak. Meskipun demikian antioksidan dapat pula digunakan untuk melindungi komponen lain seperti vitamin dan pigmen, yang juga banyak mengandung ikatan rangkap di dalam strukturnya.

* *

MEKANISME kerja antioksidan secara umum adalah menghambat oksidasi lemak. Untuk mempermudah pemahaman tentang mekanisme kerja antioksidan perlu dijelaskan lebih dahulu mekanisme oksidasi lemak. Oksidasi lemak terdiri dari tiga tahap utama yaitu inisiasi, propagasi, dan terminasi. Pada tahap inisiasi terjadi pembentukan radikal asam lemak, yaitu suatu senyawa turunan asam lemak yang bersifat tidak stabil dan sangat reaktif akibat dari hilangnya satu atom hidrogen. Pada tahap selanjutnya, yaitu propagasi, radikal asam lemak akan bereaksi dengan oksigen membentuk radikal peroksi. Radikal peroksi lebih lanjut akan menyerang asam lemak menghasilkan hidroperoksida dan radikal asam lemak baru.

Hidroperoksida yang terbentuk bersifat tidak stabil dan akan terdegradasi lebih lanjut menghasilkan senyawa-senyawa karbonil rantai pendek seperti aldehida dan keton yang bertanggungjawab atas flavor makanan berlemak. Tanpa adanya antioksidan, reaksi oksidasi lemak akan mengalami terminasi melalui reaksi antar radikal bebas membentuk kompleks bukan radikal.

Antioksidan yang baik akan bereaksi dengan radikal asam lemak segera setelah senyawa tersebut terbentuk. Dari berbagai antioksidan yang ada, mekanisme kerja serta kemampuannya sebagai antioksidan sangat bervariasi. Seringkali, kombinasi beberapa jenis antioksidan memberikan perlindungan yang lebih baik (sinergisme) terhadap oksidasi dibanding dengan satu jenis antioksidan saja. Sebagai contoh asam askorbat seringkali dicampur dengan antioksidan yang merupakan senyawa fenolik untuk mencegah reaksi oksidasi lemak.

Adanya ion logam, terutama besi dan tembaga, dapat mendorong terjadinya oksidasi lemak. Ion-ion logam ini seringkali diinaktivasi dengan penambahan senyawa pengkelat dapat juga disebut bersifat sinergistik dengan antioksidan karena menaikan efektivitas antioksidan utamanya.

Berdasarkan sumbernya antioksidan dapat digolongkan ke dalam dua jenis. Pertama, antioksidan yang bersifat alami, seperti komponen fenolik/flavonoid, vitamin E, vitamin C dan beta-karoten. Kedua, antioksidan sintetis seperti BHA (butylated hydroxyanisole), BHT (butylated hydroxytoluene, propil galat (PG), TBHQ (di-t-butyl hydroquinone).

Akhirnya, yang patut dicatat oleh kita selaku konsumen adalah bahwa suatu senyawa untuk dapat digunakan sebagai antioksidan harus mempunyai sifat-sifat, antara lain tidak toksik, efektif pada konsentrasi rendah (0,01-0,02%), dapat terkonsentrasi pada lapisan lemak yang bersifat lipofilik dan harus dapat tahan pada kondisi pengolahan pangan umumnya। Wallahu a’lam. [Arda, dari berbagai sumber].***

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

gravatar

Awas, Rokok Dapat Membunuh Anda!

Oleh ARDA DINATA

Email: arda.dinata@gmail.com

MENURUT Dr. Fernando Antezana menyebutkan, “Jika aksi-aksi yang keras tidak segera diambil, maka epidemi tembakau akan menyebabkan kematian dini sekitar 250 juta anak dan remaja yang hidup saat ini.” Sementara itu, Kepala Perwakilan WHO di Indonesia, Georg Petersen mengungkapkan saat ini sekitar empat juta orang mati tiap tahun karena rokok.

Walaupun bukti pengaruh dan kerugian akibat merokok itu begitu mengerikan, tetapi kelihatannya penanggulangan masalah merokok hingga saat ini masih belum didukung kemauan politik (political will) serius pemerintah. Buktinya, keselamatan dan kenyamanan bagi orang yang tidak merokok di tempat-tempat umum masih diabaikan.

Dalam hal ini, apa sebenarnya yang menyebabkan berbahayanya mengisap rokok itu. Lantas, apa saja kandungan yang terdapat dalam satu batang rokok. Kemudian bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Dan bagaimana cara yang bisa kita lakukan untuk menghilangkan kebiasaan merokok itu?

Bahan Kimia

Kalau kita sadar, satu batang rokok yang hanya seukuran pensil sepuluh centimeter itu, ternyata ibarat sebuah “pabrik berjalan” yang menghasilkan bahan kimia berbahaya. Satu batang rokok yang dibakar mengeluarkan sekitar 4.000 bahan kimia.

Berikut ini, akan diperbincangkan bahan-bahan kimia yang biasa terdapat dalam sebuah rokok. Dr.R.A.Nainggolan (1998) mengungkapkan beberapa bahan kimia yang ada dalam rokok, diantaranya: (1) Acrolein, merupakan zat cair yang tidak berwarna, seperti aldehyde. Zat ini sedikit banyaknya mengandung kadar alkohol. Artinya, acrolein ini adalah alkohol yang cairannya telah diambil. Cairan ini sangat mengganggu kesehatan.

(2) Karbon Monoxida, adalah sejenis gas yang tidak mempunyai bau. Unsur ini dihasilkan oleh pembakaran yang tidak sempurna dari unsur zat arang atau karbon. Zat ini sangat beracun. Jika zat ini terbawa dalam hemoglobin, maka akan mengganggu kondisi oksigen dalam darah.

(3) Nikotin, adalah cairan berminyak yang tidak berwarna dan dapat membuat rasa perih yang sangat. Nikotin ini menghalangi kontraksi rasa lapar. Itu sebabnya seseorang bisa merasakan tidak lapar karena merokok.

(4) Ammonia, merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hydrogen. Zat ini sangat tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada ammonia, sehingga kalau disuntikan (baca: masuk) sedikit pun kepada peredaraan darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.

(5) Formic Acid, adalah sejenis cairan tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lepuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang seperti merasa digigit semut.

(6) Hydrogen Cyanide, adalah sejenis gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak mempunyai rasa. Zat ini merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat efisien untuk menghalangi pernafasan. Cyanide adalah salah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja Cyanide dimasukkan langsung ke dalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.

(7) Nitrous Oxide, adalah sejenis gas yang tidak berwarna, dan bila terisap dapat menyebabkan hilangnya pertimbangan dan mengakibatkan rasa sakit. Nitrous Oxide ini adalah jenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh para dokter.

(8) Formaldehyde, adalah sejenis gas tidak berwarna dengan bau yang tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organisme-organisme hidup.

(9)Phenol, merupakan campuran dari kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organik seperti kayu dan arang, serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan, karena Phenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktifitas enzyme.

(10) Acetol, adalah hasil pemanasan aldehyde (sejenis zat yang tidak berwarna yang bebas bergerak) dan mudah menguap dengan alkohol. (11) Hydrogen Sulfide, adalah sejenis gas yang beracun yang gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oxidasi enxym (zat besi yang berisi pigmen).

(12) Pyridine, adalah sejenis cairan tidak berwarna dengan bau yang tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alkohol sebagai pelarut dan pembunuh hama. (13) Methyl Chloride, adalah campuran dari zat-zat bervalensi satu antara hidrogen dan karbon merupakan unsurnya yang terutama. Zat ini dalah merupakan compound organis yang dapat beracun.

(14) Methanol, adalah sejenis cairan ringan yang gampang menguap. dan mudah tebakar. Meminum atau mengisap methanol dapat mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian. (15) Tar, adalah sejenis cairan kental berwarna coklat tua atau hitam. Tar terdapat dalam rokok yang terdiri dari ratusan bahan kimia yang menyebabkan kanker pada hewan. Bilamana zat tersebut diisap waktu merokok akan mengakibatan kanker paru-paru.

Bahayakan Tubuh

Melihat dari uraian di atas menyangkut kandungan bahan-bahan kimia yang terdapat dalam rokok, maka kita tidak akan menyangsikan lagi kalau rokok itu merupakan sumber bencana dan perusak tubuh bagi yang mengisapnya.

Salah satu proses yang memang belum berdampak pada penampilan fisik perokok adalah gangguan pada sistem sirkulasi darah, yang akhirnya memicu penyakit jantung. “Kami menggolongkan mereka sebagai ‘perokok sehat,’ “ kata Dr. Johannes Czenin (baca: SHAR’niin), lektor kepala pada Departemen Molekular dan Farmakologi UCLA. Lebih lanjut dikemukaan, walau belum ada indikasi jantung koroner, toh ada abnormalitas yang kami sebut vosomotion, atau perubahan pada aliran darah (Ummat, 3 Agustus 1998).

Sementara itu, berdasarkan Badan Lingkungan Hidup Amerika (EPA-Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300 ribu anak-anak berusia 1 hingga 1,5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena turut mengisap asap rokok yang diembuskan orang disekitarnya terutama ayah ibunya.

Selain anak-anak, kecenderungan peningkatan jumlah korban asap rokok juga terlihat pada kaum wanita. Nasib kaum ibu bersuamikan perokok agaknya tak berbeda jauh dengan anak-anak yang memiliki keluarga perokok. Penelitian yang dilakukan EPA menghasilkan kesimpulan bahwa dari 30 wanita, 24 diantaranya beresiko tinggi terserang kanker paru-paru bila suaminya perokok (Media Indonesia, 31 Mei 1998).

Dibagian lain, menurut para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas New York, wanita yang merokok lebih dari 10 batang per hari memiliki peluang memasuki menopause dini 40 persen lebih besar ketimbang para wanita yang tidak merokok. Dalam studi itu, para peneliti mengamati 4.694 wanita selama lebih dari lima tahun. Ternyata, wanita perokok rata-rata memasuki masa menopause lebih cepat 9 bulan ketimbang wanita yang tidak merokok (baca: Republika, 27 Desember 1998).

Data lain yang merujuk pada hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga Departemen Kesehatan tahun 1980/ 1986/ 1992 menunjukkan kematian yang disebabkan oleh penyakit infeksi turun dari 60,9 persen di tahun 1980 menjadi 43,1 persen tahun 1992, sementara kematian akibat penyakit kardiovaskuler meningkat dari 0,9 persen pada tahun 1980 menjadi 16,5 persen pada tahun 1992.

Berhenti Merokok

Setelah kita mengetahui kandungan bahan-bahan kimia berbahaya dalam rokok dan akibatnya bagi kesehatan manusia, maka alangkah “bodohnya” manusia yang masih merokok dan tidak ada niatan untuk berhenti merokok. Buat apa kita dilengkapi akal dan pikiran, kalau diri kita tidak dapat memilah-milah mana yang baik dan tidak baik dari sesuatu barang yang akan kita konsumsi?

Berikut ini ada beberapa metode untuk berhenti merokok. Kurt Salzer (1950:59), dalam bukunya berjudul “Thrirteen Ways to Break the Smoking habit,” mengemukakan ada tiga belas metode berhenti merokok. (1) Menyadari apa sebabnya anda merokok. (2) Langsung berhenti merokok. (3) Jangan merokok waktu melakukan sesuatu atau sewaktu mengemudikan kendaraan. (4) Tidak merokok satu hari ini. Katakan kepada diri, “Saya tidak akan merokok hari ini.”

(5) Tentukan suatu hari untuk berhenti merokok. (6) Katakan, “ya” bagi kesehatan anda, dan katakan “tidak” untuk penyakit. (7) Merokok mengurangi kecantikan anda. Maka katakan “ya” untuk kecantikan muka anda, dan “tidak” atas kerusakan kecantikan karena rokok.

(8) Adalah merupakan watak orang-orang muda, bahwa walaupun ada sifat menentang ibu-bapak atau guru, namun mencoba meniru mereka. Bapak atau guru yang melarang anak-anak merokok, tetapi mereka sendiri merokok, akan diikuti anak-anak jadi perokok. Maka anda perlu menyadari pengaruh anda sebagai orang tua atau guru, kalau anda masih tetap merokok.

(9) Pernahkah anda membakar uang lembaran seribu rupiah? Anda, dengan merokok membuatnya, kalau masih tetap merokok. (10) Seseorang perokok telah terbiasa dengan bau rokok yang sangat tajam. Organismenya telah terbiasa dengan kadar nikotin tertentu. Gantinya memarahi seorang anak yang merokok, di dipaksa merokok sampai dia merasa sakit. Akibatnya, kapan saja anak itu mencium bau rokok, dia merasa sakit.

(11) Tersedak atau ketegukan akan berhenti dengan memperhatikan diafragma anda, bagaimana diafragma itu mengembang dan mengempis. Amati diri anda, kalau anda sedang ingin merokok. Keinginan itu datang dari luar. Lalu tutup mata anda dan pikirkan mengalahkan pengaruh luar tersebut.

(12) Dalam pertentangan antara kuasa kemauan dan kuasa imajinasi, maka kuasa imajinasi itu akan menang. Bayangkanlah anda tidak akan merokok lagi, maka anda akan berhasil. (13) Agar metode imajinasi itu berhasil, jangan bimbang. Ketegangan menghambat pekerjaan imajinasi. Dengan santai katakanlah kepada diri, “Saya tahu bahwa saya tidak akan merokok lagi.” Maka anda tidak akan merokok lagi.

Selamat berhenti merokok dan saya dukung seratus persen. Masihkah anda ragu terhadap bahaya dari rokok? Bila “ya”, berati anda benar-benar telah tertipu dan siap-siap ‘dibunuh’ oleh rokok!***

(Penulis adalah peminat masalah rokok dan kesehatan, serta dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan/ AKL KUTAMAYA, Bandung).

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:

  1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.penulissukses.com?id=buku08

  1. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:

- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.

- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP

- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.

- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.

http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

E-mail: arda.dinata@gmail.com

Hp. 081.320.476048.

http://www.miqra.blogspot.com

gravatar

AIDS, Puasa dan Pengendalian Hawa Nafsu

Oleh: Arda Dinata

Email: arda.dinata@gmail.com

AIDS, awalnya ia membunuh orang-orang homoseksual. Kemudian pecandu narkotika, orang-orang Haiti dan penderita hemofilia. Kini ia memangsa siapa saja ---Pria, wanita, suami, istri, dan bahkan anak-anak--- tak perduli apapun gaya hidup dan aktivitas seksual mereka. Ia mewabah di bebarapa negara termasuk Indonesia.

Menurut Estimasi WHO, di Indonesia terdapat 52.000 kasus di masyarakat pada tahun 1999. Sedangkan tahun 2001 estimasi meningkat menjadi 80.000-120.000 kasus. Data terbaru jumlah kumulatif pengindap infeksi HIV dan kasus AIDS di Indonesia sejak pertama kali dilaporkan hingga 30 September 2002 mencapai 3.374 kasus dengan rincian sebanyak 2.417 orang terkena infeksi HIV dan 286 orang mengindap AIDS. Sementara itu, selama rentang waktu antara Januari hingga 30 September 2002, terdapat 799 kasus dengan rincian 513 kasus infeksi HIV dan 286 kasus AIDS (PR, 7/11/02).

Virus HIV (penyebab AIDS) ini, sebenarnya bukanlah virus yang ganas. Penularannya pun tidak semudah seperti penularan virus influenza. Memang tidak dipungkiri kalau bibit penyakit AIDS ini terdapat pada semua cairan tubuh penderita AIDS. Tapi, yang terbukti berperan dalam penularan AIDS ialah air mani (sperma), cairan alat kelamin wanita dan darah.

Secara demikian, cara penularan AIDS terjadi terutama melalui: Pertama, hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi AIDS. Cara hubungan seksual melalui alat kelamin, dubur maupun mulut sangat rawan untuk penularan AIDS. Kedua, transfusi darah yang sudah terinfeksi virus AIDS. Aplikasinya bisa melalui jarum suntik dan alat tusuk lainnya (tusuk jarum, tatto, tindik telinga) yang bekas dipakai oleh orang yang terinfeksi virus AIDS. Ketiga, ibu hamil yang terinfeksi virus AIDS dapat menularkan kepada janin dan bayinya.

Oleh sebab itu, langkah penting selain pengobatan, perawatan dan dukungan, adalah pencegahan terjadinya penyakit HIV/AIDS itu sendiri. Dan ini tentunya sangat relevan bila kita jadikan momentum ibadah puasa di bulan Ramadhan ini sebagai bulan kesadaran dalam pengendalian penyebaran HIV/AIDS. Karena terjadinaya HIV/AIDS pada awalnya disebabkan oleh lemahnya kita dalam mengendalikan hawa nafsu (terutama nafsu seksual).

Menurut Dr Yusuf Qardhawi, salah satu rahasia yang bisa direngkuh oleh seseorang apabila ia melaksanakan ibadah puasa (terutama di bulan Ramadhan), adalah untuk menguatkan jiwa. Dalam hidup ini tak sedikit kerja manusia didominasi justru oleh hawa nafsunya.Oleh karena itu dalam Islam dianjurkan untuk mengendalikan hawa nafsu tersebut. Lewat ibadah puasa di bulan Ramadhan ini, jiwa seorang muslim akan dikuatkan-Nya. Artinya kita dapat melakukan pengendalian/pencegahan terhadap penularan/penyebaran HIV/AIDS dengan melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Sementara itu, nafsu diartikan sebagai keinginan (kecenderungan, dorongan) hati yang kuat berupa dorongan batin untuk berbuat yang kurang baik; kemarahan; kepanasan hati. Di sini, seakan-akan kata nafsu selalu menggiring alam pikiran kita kepada konotasi yang rendah, primitif, dan negatif. Apakah hal ini memang benar seperti itu? Lalu, bagaimana konsep nafsu menurut ajaran Islam?

Dalam beberapa ayat Alquran (al Nisa’: 135; Shaad: 26; al Najm: 3; al Naazi’aat: 40; al A’raf: 176; al Kahf:: 28; Thaaha: 16; al Furqaan: 43; al Qashash: 50; al Jaatsiyah: 23), ternyata kesemua kata al hawaa (hawa nafsu) mengandung pengertian tentang sesuatu hal yang cenderung menguasai, memperbudak, melanggar batas, berbuat tidak bermoral, mencari kenikmatan sesaat dan mengakibatkan penyesalan.

Hawa nafsu memang diakui selalu mengajak kepada sesuatu yang dianggap nyaman dan nikmat, maksiat, kesia-siaan dan condong untuk memuaskan diri pada kehidupan duniawi. Tetapi, yang jelas, Allah Azza wa Jalla tidak pernah menjadikan sesuatu itu secara sia-sia. Begitu juga dengan hawa nafsu, sekalipun hawa nafsu ini selalu mengajak manusia kepada perbuatan amoral, namun dia merupakan satu-satunya perangkat bagi manusia dalam melangsungkan hidupnya di dunia ini (baca: nafsu makan, minum, seksual, dll). Dan Allah sendiri selalu menekankan terhadap manusia agar takut kepada-Nya dan tidak memperturutkan hawa nafsu. Dua posisi inilah yang akan menghadapkan manusia pada ujian dan tantangan yang harus dihadapinya di dunia.

Jenis-Jenis Nafsu

Dalam Alquran Allah SWT telah menjelaskan tentang jenis-jenis nafsu yang dimiliki manusia, yaitu Muthmainnah, Lawwamah dan Ammarah Bissu’.

Pertama, nafsu Muthmainnah. Nafsu ini tenang pada suatu hal dan jauh dari keguncangan yang disebabkan oleh bermacam-macam tantangan dan dari bisikan syaitan. Apabila nafsu tenang bersama Allah, tentram ketika mengingat-Nya, selalu merindukan-Nya dan senang ada di dekat-Nya, itulah nafsu Muthmainnah. Dialah nafsu yang di saat ajal menjelang, akan dikatakan kepadanya: “Hai nafsu (jiwa) yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS. Al-Fajr: 27-30).

Untuk itu, jangan dibiarkan nafsu yang selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Allah (baca: QS. 12: 53). Agar nafsu itu mendapat rahmat Allah, maka manusia harus beristiqamah/ berteguh pendirian terhadap Allah (baca: QS. 41: 30), selalu ikhlas dalam setiap amal dan selalu ingat bahwa diri ini akan kembali kepada-Nya (baca: QS. 23: 57-61), selalu beriman dan bertaqwa agar mendapat ketenangan dan kebahagiaan hidup (baca: QS. 10: 62-64).

Kedua, nafsu Lawwamah. Yakni nafsu yang tidak pernah konsisten atau stabil di atas satu keadaan. Ia seringkali berubah –baik pendirian/ perilaku--. Ia antara ingat dan lalai, ridha dan marah, cinta dan benci, serta taat dan berdoa kepada Allah atau bahkan berpaling dari-Nya. Jadi, nafsu ini tidak/ belum sempurna ketenangannya, karena selalu menentang atau melawan kejahatan tetapi suatu saat teledor dan lalai berbakti kepada Allah, sehingga dicela dan disesalinya.

Allah berfirman dalam Alquran surat Al Qiyaamah: 1-5, “Aku bersumpah dengan hari kiamat; dan Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulang?; Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun kembali jari-jarinya dengan sempurna; Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus.”

Ketiga, nafsu Ammarah Bissu’. Yaitu nafsu yang tercela, sebab ia memiliki watak selalu mengajak ke arah kezaliman. Tidak seorangpun yang terlepas dari watak buruk nafsu ini, kecuali orang yang memperoleh pertolongan Allah SWT sebagaimana kisah istri Al-Aziz, penguasa Mesir. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh pada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusup: 33).

Dan Allah pun berfirman, “Sekiranya tidak karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya.” (QS. An-Nur: 21). Singkatnya, nafsu Ammarah Bissu’ ini selalu melepaskan diri dari tantangan dan tidak mau menentang, bahkan patuh tunduk saja kepada nafsu syahwat dan panggilan syaitan.

Terlepas dari Perangkap Nafsu

Pada diri manusia, sebenarnya nafsu itu hanya ada satu, tetapi nafsu ini akan menjelma menjadi Ammarah, lalu Lawwamah dan yang akhirnya meningkat menjadi Muthmainnah. Artinya nafsu Muthmainnah inilah puncak kesempurnaan dan kebaikan nafsu manusia.

Ahmad Faried dalam kitab Tazkiyatun Nufuus wa Tarbiyatuha Kama Yuqorriruhu Ulama’ Us-Salaf (Menyucikan Jiwa: Konsep Ulama Salaf), diungkapkan bahwa nafsu Muthmainnah, selalu berteman dan berada di samping para malaikat. Dengannya kita mendapatkan bimbingan dan dorongan pada kebenaran hakiki yang mengiasi dengan nuansa keindahan bagi kehidupan. Kehadirannya mampu membentengi diri dari setiap keinginan berbuat jahat dan mampu merefleksikan segala bentuk kejahatan beserta akibat dan sanksi-Nya, agar ia mau menjauhinya. Jadi, segala perbuatan manusia yang semata-mata untuk ubuddiyah kepada Allah, maka itu semua bermuara dari nafsu Muthmainnah.

Nafsu Muthmainnah bersama-sama dengan malaikat mengemban tugas untuk memberi penyegaran jiwa manusia dengan: tauhid, ihsan, kebaikan, takwa, tawakal, tobat, kembali pada jalan Allah, tidak panjang angan-angan, mempersiapkan bekal untuk menyongsong kematian dan hidup sesudahnya.

Sementara itu, nafsu Ammarah, berada dalam garis komando setan yang dijadikannya sebagai pendamping setianya. Ia akan selalu memberikan janji-janji kosong, mengisinya dengan kebatilan, mengajaknya berbuat jahat dan menghiasi kejahatan itu sebagai sesuatu yang menarik baginya. melalui kata-kata manis yang beracun, otak kita dikendalikannya sehingga seolah-olah kita akan hidup selamanya.

Di sini, peran setan bersama-sama dengan para simpatisannya (orang-orang kafir) akan mempengaruhi nafsu Ammarah agar melakukan perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kebaikan-kebaikan yang diperbuat nafsu Muthmainnah.

Berdasarkan interprestasi demikian, tugas terberat yang harus dipikul dan menyulitkan bagi nafsu Muthmainnah adalah membebaskan suatu perbuatan dari campur tangan setan dan nafsu Ammarah. Namun demikian, untuk melawan pengaruh nafsu Ammarah atas hati orang Mukmin, adalah dengan menyiasati dan tidak memperturutkan kemauan-kemauannya, sebagaimana sabda Rasulullah saw berikut: “Orang yang pandai ialah orang yang mau menyiasati nafsunya dan beramal untuk bekal kehidupan sesudah mati. Dan orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan terhadap Allah (dengan angan-angan kosong).” (HR. Imam Ahmad).

Pada konteks ini, kita perlu mengadakan introspeksi diri atas nafsu-nafsu yang menyelimuti diri setiap Mukmin. Dalam hal ini, Nabi saw bersabda: “Hisablah dirimu sebelum dihisab dan timbanglah amal perbuatanmu sebelum ditimbang (di hadapan Allah). Sebab lebih ringan bagimu, jika kamu mau menghisab diri pada hari ini, daripada menunggu nanti diperhitungkan pada hari penghisaban dan penimbangan, yaitu pada hari pertemuan besar antara para makhluk dengan Tuhan mereka.” (HR. Imam Ahmad dari Umar bin Khathab ra.).

Menurut Ahmad Faried, ada dua cara untuk mengadakan penghisaban (pengevaluasian) terhadap nafsu, yaitu sebelum dan sesudah melakukannya. (1) Hendaknya seseorang berhenti untuk berpikir ketika pertama kali ia bermaksud memulai pekerjaan. Dan jangan tergesa-gesa mengambil keputusan sebelum jelas baginya bahwa keputusannya itu tidak berdampak negatif. Imam Hasan al-Bashri berkata: “Semoga Allah merahmati hamba-Nya yang mau berpikir sejenak ketika ia mau melakukan perbuatan, jika memang perbuatan itu karena Allah, maka ia teruskan dan jika karena selain-Nya, maka ia batalkan.”

(2) Mengevaluasi diri setelah beramal. Dalam hal ini ada tiga tingkatan evaluasi. Pertama, mengevaluasi nafsu atas ketaatan yang dilakukannya, tetapi ia kurang dalam memenuhi hak Allah dalam perbuatan itu. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak berjalan sebagaimana mestinya. Adapun hak Allah dalam ketaatan itu ada enam perkara: ikhlas berbuat, nasihat (mengharap kebaikan) karena Allah, mengikuti ajaran Rasul saw, menampakkan sisi ikhsan dalam beramal, mengakui karunia Allah atasnya dan setelah itu mengakui akan kekurangannya dalam melakukan perbuatan itu. Maka dihisablah dirinya sendiri dari kriteria yang ditetapkan-Nya tersebut.

Kedua, menghisab diri atas setiap perbuatan yaang apabila ditinggalkan lebih utama daripada dikerjakan. Ketiga, menghisab diri atas suatu perbuatan yang boleh (mubah) hukumnya, sebab ia telah melakukannya. Terlepas dari apakah ia melakukannya karena Allah dan kehidupan akhirat, supaya beruntung, ataukah demi mengejar kebahagiaan dunia yang semu dan temporal ini, sehingga ia akan menyesal di hari kemudian?

Sementara itu, dalam bahasa Ibn al Jauziy dalam kitab Dzamm al Hawaa (Celaan Terhadap Hawa Nafsu), untuk terlepas dari perangkap (nafsu) bagi orang yang terjerumus di dalamnya adalah dengan niat dan tekad yang kuat untuk meninggalkan sumber penyebabnya. Caranya dengan bertahap, sedikit demi sedikit meninggalkan biangnya. Dan menurut beliau ini memerlukan kesabaran dan perjuangan dengan bantuan tujuh perkara. Yaitu (1) Merenung dan berfikir kembali bahwa sesungguhnya manusia itu diciptakan bukan untuk menjadi budak nafsu. Manusia diciptakan agar bisa mempertimbangkan akibat segala sesuatu dan beramal saleh untuk bekal kehidupan akhirat.

(2) Hendaklah dia memikirkan akibat yang akan ditimbulkan oleh hawa nafsu. Sudah berapa banyak akibat hawa nafsu, beberapa keutamaan menjadi musnah. Sudah berapa banyak karena nafsu, manusia terjerumus dalam lembah nista. Berapa banyak makanan yang menyebabkan penyakit. Berapa banyak pula akibat kekhilafan, reputasi menjadi pudar, malah mengakibatkan cemoohan dan hukuman. Sayangnya orang yang dikuasai hawa nafsu kerap menjadi buta dengan apa yang ada di sekelilingnya.

(3) Hendaklah orang yang berakal membayangkan bahwa dia baru saja memenuhi syahwatnya dan membersitkan dalam benaknya akibat dari perbuatan itu. Kemudian dia membayangkan lagi bahaya yang muncul setelah kenikmatan yang hanya sesaat (itu dilakukan). Maka dia akan menjumpai bahaya yang ada jauh lebih besar dibanding dengan kenikmatan hawa nafsu (yang dirasakan).

(4) Hendaklah dia membayangkan seandainya syahwat itu dilakukan orang. Lalu dia memikirkan akibat dari syahwat tersebut di dalam pikiran, seandainya aib itu menimpa dirinya.

(5) Hendaklah dia memikirkan kembali kenikmatan yang sedang dia kejar. Niscaya akal memberitahu kepadanya bahwa kenikmatan itu sebenarnya tidak berarti apa-apa. Hanya memang mata hawa nafsu telah buta (sehingga tidak obyektif dalam menilai sesuatu).

(6) Hendaklah dia memikirkan bagaimana terhormatnya ketika menang dan hinanya ketika kalah. Sesungguhnya tidak seorangpun yang berhasil menguasai hawa nafsunya melainkan dia akan merasa kuat kemenangannya. Dan tidak seorangpun yang berhasil ditaklukkan oleh hawa nafsunya melainkan akan merasa hina dan tidak ada harganya.

(7) Hendaknya membayangkan faedah tidak menuruti hawa nafsu. Di anatara faedah mengekang hawa nafsu adalah mendapatkan nama baik di dunia, selamatnya jiwa dan badan serta pahala yang telah dijanjikan di akhirat. Sebaliknya apabila dia mengumbar hawa nafsu, maka akan mendapatkan kebalikan dari faedah tersebut. Ada baiknya, jika seseorang membayangkan kondisi di atas, seperti kondisi yang dialami oleh Nabi Adam (baca: kasus memakan buah khuldi) dan Nabi Yusup as (baca: kasus bujuk rayu Zulaikha). Yang satu mengenai kenikmatan sesaat dan yang satu lagi mengenai kesabaran yang dijalankan dengan penuh derita, namun kemuliaan yang diterima setelah itu.

Yang jelas, hemat penulis pencegahan HIV/AIDS ini sesungguhnya bisa dilakukan dengan baik, seandainya kunci utamanya adalah kita mematuhi semua aturan Allah SWT, yakni dengan mengendalikan hawa nafsu. Artinya sebagian kecil pelanggaran yang dilakukan manusia saat ini, telah membuktikan bahwa perzinaan adalah pebuatan yang tidak diridhai-Nya. Dampaknya bagi kita buah keburukan yang diperoleh, bukan saja di akhirat kelak melainkan juga ketika masih hidup di dunia (baca: HIV/AIDS). Karena itu, tidak berlebihan Allah mengingatkan kepada kita dalam Alquran, yang artinya:“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al-Isra’: 32). Wallahu’alam.***

Penulis adalah Pendiri Majelis Inspirasi Alquran & Realitas Alam (MIQRA) dan Kontributor Tabloid Manajemen Qolbu (MQ) Bandung.

Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:

  1. Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.penulissukses.com?id=buku08

  1. Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:

- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.

- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP

- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.

- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.

http://www.megabuku.com?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

E-mail: arda.dinata@gmail.com

Hp. 081.320.476048.

http://www.miqra.blogspot.com

gravatar

“Makanan dan Minuman” Pembawa Berkah

Oleh Arda Dinata

MAKANAN dan minuman merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Kondisi makanan dan minuman yang memenuhi gizi, mempunyai bentuk yang menarik, dan aman dalam arti tidak mengandung kuman serta bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan penyakit, belumlah cukup bagi seorang Muslim. Sebab, makanan dan minuman tersebut tidak akan menambah kesehatan dan kebaikan bagi tubuh dan jiwa manusia bila tidak disertai faktor halal.

Itulah sebabnya di dalam Alquran, kita diperintahkan oleh Allah untuk memakan makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepada setiap manusia. (QS. Al-Baqarah: 88).

Memang tidak dapat dipungkiri, realitasnya saat ini telah banyak beredar berbagai makanan yang memiliki kondisi: baik dan halal; baik tapi tidak halal; dan atau sama sekali tidak baik maupun tidak halal. Untuk itu, bagi setiap muslim dalam mengkonsumsi makanan yang harus diingat adalah pada pegangan dua prinsip, berupa halal dan thoyyib.

Halal dan thoyyib, menurut Anton Apriyantono, dosen pangan dan gizi IPB serta Pembina Yayasan Halalan Thoyyiban, adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Thoyyib di sini berarti baik, baik dari segi gizi maupun keamanannya. Makanan yang halal pasti thoyyib. Sementara, jika makanan itu tidak thoyyib maka sudah tentu tidak halal. Contohnya, daging ayam yang disembeleih secara Islami dan masih segar adalah halal. Tetapi, jika daging ayam tersebut sudah membusuk (misalnya karena terlalu lama disimpan di suhu ruangan), maka daging itu tidak thoyyib. Meskipun daging itu disembelih secara Islami. Jika daging ayam ini dipaksakan untuk dimakan maka akan menyebabkan sakit, itulah sebabnya mengapa menjadi tidak halal.

Demikian halnya jika suatu bahan pangan dapat meracuni tubuh maka bahan pangan itu juga tidak halal. Misalnya, dengan kasus daging ayam yang terkena virus flu burung, tentu walaupun disembelih secara Islami, namun karena ia tidak baik (sakit), maka menjadi tidak halal.

Namun demikian, ketidak-thoyyib-an ini menurut Quraish Shihab, bisa bersifat individual. Beberapa jenis makanan tertentu yang thoyyib bagi seseorang. Misalnya, udang. Meskipun udang halal, namun pada beberapa individu udang dapat menimbulkan reaksi alergi sehingga tidak thoyyib.

Di sini, yang jelas agar makanan yang halal dan thoyyib itu dapat berfungsi dengan baik bagi kehidupan manusia maka selain memperhatikan sumber kehalalannya, juga makanan harus enak rasanya, bersih, sehat, memenuhi nilai gizi yang cukup, serta mudah dicerna dan diserap tubuh. Dalam hal ini, setiap makanan bila ditekankan dari fungsinya maka paling tidak harus memenuhi dua fungsi dari tiga fungsi berikut, yaitu memberikan panas dan tenaga kepada tubuh. Membangun jaringan-jaringan tubuh baru, memelihara dan memperbaiki yang tua. Mengatur proses-proses alamiah, kimiawi atau faali dalam tubuh.

Jadi, kita mesti ingat bahwa makanan yang thoyyib belum tentu halal. Sehingga patut dicatat bahwa mengkonsumsi makanan dan minuman halal tidak hanya berarti bagi kesehatan dan kebaikan tubuh semata-mata, tetapi juga berarti bagi keberkahan kehidupan manusia itu sendiri. Tepatnya, halal tidaknya apa-apa yang kita konsumsi akan berpengaruh pada dikabulkan atau tidaknya doa kita. Rasulullah Saw. bersabda: Perbaikilah makanmu, maka Allah akan mengabulkan doamu. (HR. Ath-Thabrani). Wallahu’alam. (Arda Dinata).***
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.

DAPATKAN ARTIKEL LAINYA TENTANG:
Menjadi Penulis Sukses, Mendapatkan Harta Karun, Menulis Buku, bisnis internet. Klik di bawah ini: http://www.penulissukses.com/?id=buku08

Dapatkan E-Book (berbahasa Indonesia) di bawah ini:
- Cara Mudah, Cepat dan Praktis Nampang di Internet / Dasar-Dasar HTML.
- Panduan Praktis Membangun Situs Dinamis dan Interaktif dengan PHP
- Cara Mengirim Puluhan, ratusan Bahkan Ribuan Email dalam Sekali Klik.
- Download GRATIS Ringkasan/Summary buku "KUNCI EMAS, Rahasia Sukses Membangun Kekayaan dan Kesejahteraan", Karya: L.Y. Wiranaga, Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
http://www.megabuku.com/?ref=1788

Arda Dinata, adalah praktisi kesehatan, pengusaha inspirasi, pembicara, trainer, dan motivator di Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
E-mail: arda.dinata@gmail.com
Hp. 081.320.476048.
http://www.miqra.blogspot.com/

Rekomendasi Blogger Kaya